Masih Pantaskah Mengaku Sebagai Blogger

Paling tidak mengaku sebagai blogger pernah memiliki kesempatan menuangkan kata-kata yang mungkin saja dari sebagian kata merupakan curahan isi hati. Paling tidak pernah memiliki karya yang tidak terlalu baik dengan kata-kata indah yang puitis dan romantis. Paling tidak pernah membuat sebuah gambar yang merupakan sejarah karya terbesar yang penah dimiliki.

Fast Track Guide Internet Marketing

Sejatinya menurut saya Fast track guide internet marketing yang mudah adalah mempergunakan logika, insting, dan keyakinan. Tetap pada prinsipnya, apapun yang kita jual selama memberikan manfaat akan tetap laku dan bertahan dalam jangka waktu yang lama

Cara Mudah Cek Backlink

Update algoritma menyatakan artikel terbaru dengan kata kunci serupa akan mendapat kesempatan masuk halaman pertama hasil pencarian (SERP)

Best Free SEO Tools For Blogger and Internet Marketing

Trafik yang lumayan dengan kisaran visitor 10K dan page view 30K. Tentu hal tersebut bukan semata karena keberhasilan trik SEO yang diterapkan, bisa jadi karena sebuah hal tersembunyi yang merupakan rahasia yang sulit dipecahkan dan tidak dapat ditemukan secara teoritis mempergunakan mesin pencari seperti apapun.

Memahami Duplicate Content dan How to Solve It?

Sebenarnya apa yang dikatakan dengan Duplicate Content? Ada berbagai descripsi yang menjelaskan tentang definisi duplikat konten. Ada yang menafsirkan adalah kesamaan konten atau konten serupa dalam hasil pencarian mesin pencari yang memberikan definisi sama dari web yang berbeda.

Mathasan Kamalengan Egubang Dhari Budih

Idul Fitrih 1435 H
Teringat masa kecil lalu dengan salah satu istilah dalam bahasa Madura “Mathasan Kamalengan Egubang Dhari Budih”. Kurang lebihnya begitulah ungkapan tersebut yang kerap didengar dan diucapkan menjelang hari raya idul fitrih.

Sepertinya sudah merupakan hal yang lazim, hari raya identik dengan baju baru, sepatu baru, celana baru, dan semua serba baru. Tapi dulu sewaktu kecil asal sudah ada baju baru sudah luar biasa. Yang penting hari raya ada baju baru sebagai ganti “Asalenan”.

“Tellasan Tak Aselesan Kalambi Se Bilen Elih Belih”. Hari raya tak ada baju baru, baju yang lama di pakai kembali. Masa kecil dulu Alhamdulillah meskipun hanya sekedar selembar baju baru masih tiap tahun mendapatkan jatah dari orang tua. Istilah tersebut tidak berlaku untuk saya, walau ada juga teman sebaya waktu yang “Tellasan KamalenganHari Raya Tak ada baju baru.

Masa kecil dulu menunggu datangnya hari raya seakan lama sangat. Seminggu seakan sangat lamban untuk dilalui menunggu datangnya hari raya, pakai baju baru, berangkat kemasjid untuk ikutan sholat ied dengan baju yang serba baru dan serba kebahagiaan di hari raya karena penuh kue dan makanan yang enak.

Waktupun terus berputar, kebiasaan itu sepertinya harus pula ditinggalkan meskipun secara tidak langsung menjadi warisan bagi anak-anak. Beberapa waktu lalu sisulung sudah menghitung hari datangnya hari raya. Menghitung hari tersebut sudah dapat ditangkap bahwa baju baru akan segera dibelikan.

He.. he… namanya juga anak-anak, tak jauh beda dengan masa saya anak-anak dahulu. Namun lebaran kali ini bukan menjadi masalah sekalipun Mathasan Kamalengan, dan Alhamdulillah pertanyaan anak-anak sudah terjawab untuk merayakan hari raya dengan baju baru mereka sekalipun puasa yang dilakukan hanya sampai bedug dhuhur, bahkan makan sahur bareng, tapi paginya udah minta sarapan pagi.

Subhanallah, karuna Allah tidak pernah di duga dan sungguh luar biasa. Uang sebesar 200 ribu sangat berarti demi membelikan baju baru anak-anak yang tidak seberapa, sekalipun harus mengalah dengan baju tahun lalu yang dipakai kembali. Semoga tetap mendapatkan khidmat idul fitrih sekalipun tanpa baju baru. Semoga Allah memberikan suasana hati yang lebih baru dan lebih cerah dari warna baju baru. Aamiin….

Tulisan Tengah Malam

Alhamdulillah segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam yang telah memberikan nikmat luar biasa sekalipun diri ini masih terlalu sering mengingkari nikmat tersebut dengan kurangnya mensyukuri apa yang telah Allah berikan sebagai karunia dan kenikmatan dalam menjalani kehidupan ini.

Entah apa yang menjadikan jari jemari ini ingin kembali menari dan merangkaikan kata demi kata walau sangat mungkin hanyalah kata tak bermakna bagi orang lain, namun ini adalah suatu makna luar biasa yang diberikan Allah pada kesempatan kali ini. Nikmat iman untuk tetap bisa mengingat nama-Nya sekalipun tidak sebanding dengan nikmat yang telah diberikan-Nya.

Tak cukup dengan menyebut nama-Nya yang agung, tak cukup hanya dengan bersyukur berucap kata Alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukur terhadap segala nikmat yang telah saya rasakan. Seandainya waktu 24 jam yang telah diberikan dipergunakan untuk beribadah, rasanya belum cukup untuk dijadikan ungkapan syukur atas segala nikmat.

Namun, diri ini sebagai hamba yang bodoh dan lemah, hanya hal itulah kemampuan yang dapat dilakukan untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan, terlebih nikmat iman dan islam sehingga masih ada kesempatan untuk mengingat-Nya meskipun hanya dalam sepenggal kata ucap Alhamdulillah.

Hanya ingin menulis dan menjadikan tulisan ini bahwa selama ini diri ini terlalu banyak melupakan sang Khalik, terlalu jauh dari nama-nama Agungnya untuk sekedar menggerakkan bibir menyebut nama-Nya, apa lagi sujud berucap terima kasih dan berharap ridho-Nya.

Subhanallah, maha suci Allah yang masih memberikan karunia pada hamba-Nya yang teramat hina dan nista. Sungguh tiada arti diri ini tanpa kuasa dan pertolongan-Nya. Apa yang dapat disombongkan diri ini sekalipun memiliki badan yang kuat, harta yang melimpah, atau taat dalam beribadah sekalipun tanpa kuasa-Nya.

Diri ini terlalu sering menilai orang lain tentang hal negative yang dimiliki, sementara diri ini belum tentu lebih baik dari orang tersebut menurut penilaian-Nya. Tak jarang diri ini merasa telah banyak beribadah, banyak berbuat baik sehingga sangat mudah menilai rendah orang lain. Tak sadar bahwa diri ini melakukan ibadah sekalipun atas nikmat dan karunia-Nya. Jika sang kuasa berkehendak. Tak ayal diri ini akan semakin jauh dan terus menjauh dari-Nya.

Subhanallah, Alhamdulillah atas segala nikmat sehingga diri ini masih diberikan kesempatan untuk menggerakkan bibir ini untuk mengucapkan nama yang mengagungkan kebesarannya. Tanpa nikmat dan karunia-Mu, sangatlah mungkin bibir ini membeku laksana es, sangatlah mungkin hati ini akan keras sekeras batu yang hitam legam.

Aku Hanya Bisa Mengaku Cinta Indonesia

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia sekalipun berada pada strata terendah yaitu sebagai rakyat Indonesia seharusnya memiliki rasa cinta terhadap negeri tercinta sebagai tempat dimana kita dilahirkan, tumbuh besar dan mengerti banyak hal tentang hidup dan kehidupan selama ini.

Tiga puluh tahun lebih menghirup udara segara dibumi pertiwi, tumbuh besar dan memiliki pola berpikir yang lebih luas tentang cinta tanah air, cinta bangsa, cinta Republik Indonesia. Namun apa sebetulnya yang telah kita persembahkan sebagai rasa cinta kita terhadap negeri tercinta ini. Apakah sudah pantas dikatakan cinta terhadap negeri ini dengan apa yang telah dilakukan selama ini, selama mengerti dan memiliki pandangan tentang arti cinta tanah air dan bangsa. Walau tidak dapat dipungkiri bahwa Aku dan Indonesia adalah sebuah kesatuan yang Alhamdulillah sampai saat ini merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan.

Telah banyak yang telah aku dapat dari negeri ini, sekalipun tak sebanding dengan apa yang telah aku dermakan untuk Indonesia.

Secara akal, diri ini hanyalah bagaikan benalu yang selalu menempel dan menghisap sari pati yang akan menumbuh besarkan Indonesia. Dan itulah kemampuan yang aku miliki sebagai ungkapan rasa cintaku terhadap negeri ini. Tetap berusaha menjunjung langit dimana bumi dipijak meskipun bukan sebagai tiang yang kokoh untuk menupang langit Indonesia dengan kemampuan dan kekuatan yang terbatas.

Apa yang dapat aku banggakan sebagai bagian dari negeri tercinta ini. Apa yang menjadi kebanggaan Aku dan Indoensia.

Sedikit cerita singkat tentang pengalaman hidup sebagai bukti bahwa aku adalah Indonesia.

36 tahun silam aku dilahirkan, tumbuh besar dan mengeyam pendidikan yang tidak seberapa dari system pendidikan negeri ini. Sesuatu yang harus disyukuri dengan sistem pendidikan negeri ini, meskipun tidak menjadikan aku sebagai orang yang pintar, namun telah memberikan pengetahuan sehingga aku bisa berpikir lebih jauh tentang menapak kehidupan menuju masa depan.

Keputusasaan yang pernah ada telah mengantarkan diri ini pada salah satu jalan dari pertolongan-Nya, tahun 2003 meskipun pada sesuatu yang tidak terlalu berharga, namun pernah mengusung sang merah putih dan menempelkannya di dada sekalipun hanya bendera kecil yang dilekatkan di dada bersama dengan lambang garuda. Sesuatu yang membanggakan diri sekalipun tidak memberikan sesuatu yang membanggakan bagi negeri ini. Apakah pantas dikatakan aku cinta indonesia sementara aku hanya bisa membanggakan garuda dan merah putih tanpa membeirkan sesuatu yang berarti.

Saat ini aku hanya menjadi orang yang mau berbagi, walau secara jujur pendidikan yang dimiliki tidak sepadan untuk mengutarakan rasa cinta terhadap negeri ini. Lebih sering mengeluh dengan sistem yang ada, seakan diri ini menjadi bagian yang sangat tidak berarti dan dikesampingkan oleh sistem negeri ini. Menjadi salah satu bagian dari pendidikan negeri ini yang tujuan awal adalah mendapatkan penghasilan dari tindakan tersebut. Sering mengeluh apabila ada usulan yang tidak sesuai dengan harapan. Secara jelas saja diri ini merasa tersisih jika yang lain mendapatkan tunjangan lebih, sementara diri ini merasa pengabdian untuk negeri tidak mendapatkan penghargaan (upah yang setimpal). Apakah masih pantas menganggap diri ini cinta Indonesia??

Sedikit menyadari dalam kesendirian bahwa yang dilakukan untuk negeri ini bukan semata untuk kepentingan negeri, masih lebih terarah pada kepentingan pribadi. Apa yang telah dilakukan diri ini secara tulus sebagai ungkapan rasa cinta terhadap negeri ini. Aku dan Indonesia hanyalah bagian yang sampai saat ini sebagai bagian yang tak terlepaskan walau lebih banyak menjadi benalu bagi negeri ini untuk kepentingan diri. Lebih mementingkan diri demi mementingkan kemajuan negeri mendatang, sekalipun hal tersebut sering aku tutupi dengan ungkapan yang seolah-olah dapat diterima dengan akal yang sehat dan rasional.

Ungkapan yang sebenarnya tidak rasional tersebut coba saya tuliskan pada postingan singkat ini dan mencoba berpartisipasi dalam Kontes Unggulan Aku Dan Indonesia