Masih Pantaskah Mengaku Sebagai Blogger

Paling tidak mengaku sebagai blogger pernah memiliki kesempatan menuangkan kata-kata yang mungkin saja dari sebagian kata merupakan curahan isi hati. Paling tidak pernah memiliki karya yang tidak terlalu baik dengan kata-kata indah yang puitis dan romantis. Paling tidak pernah membuat sebuah gambar yang merupakan sejarah karya terbesar yang penah dimiliki.

Fast Track Guide Internet Marketing

Sejatinya menurut saya Fast track guide internet marketing yang mudah adalah mempergunakan logika, insting, dan keyakinan. Tetap pada prinsipnya, apapun yang kita jual selama memberikan manfaat akan tetap laku dan bertahan dalam jangka waktu yang lama

Cara Mudah Cek Backlink

Update algoritma menyatakan artikel terbaru dengan kata kunci serupa akan mendapat kesempatan masuk halaman pertama hasil pencarian (SERP)

Best Free SEO Tools For Blogger and Internet Marketing

Trafik yang lumayan dengan kisaran visitor 10K dan page view 30K. Tentu hal tersebut bukan semata karena keberhasilan trik SEO yang diterapkan, bisa jadi karena sebuah hal tersembunyi yang merupakan rahasia yang sulit dipecahkan dan tidak dapat ditemukan secara teoritis mempergunakan mesin pencari seperti apapun.

Memahami Duplicate Content dan How to Solve It?

Sebenarnya apa yang dikatakan dengan Duplicate Content? Ada berbagai descripsi yang menjelaskan tentang definisi duplikat konten. Ada yang menafsirkan adalah kesamaan konten atau konten serupa dalam hasil pencarian mesin pencari yang memberikan definisi sama dari web yang berbeda.

Aku Datang Terlambat

Aku Datang TerlambatSuara kokok ayam sudah mulai terdengar dari kandang tetangga. Bertanda fajar sudah mulai menyingsing. Gemercik air dari kamar mandi terdengar bertanda sudah ada yang membersihkan diri untuk melakukan ibadah subuh pagi hari ini. Sayup dari jauh mulai terdengar kicauan burung yang mulai bermain dan mengais rejeki dari pohon satu ke pohon yang lain, menambah indahnya suasana pagi hari ini yang masih sepi.

Ku coba melangkah keluar rumah, meskipun rasa kantuk masih terus menyelimuti. Terasa segar udara pagi hari ini, tak ada kabut tipis menyelimuti sehingga tak terasa dingin seperti hari-hari sebelumnya terlihat kabut tipis menyelimuti lingkungan sekitar. Tentu saja udara dingin cukup menusuk tulang meskipun ku coba keluar dari balik selimut sehingga aku tak terlalu larut dalam buaian udara dingin.

Beberapa saat kemudian, dari sebuah masjid yang tidak terlalu jauh sudah terdengar kumandang adzan subuh disusul dari beberapa masjid dan surau lain yang mengajak para kaum muslimin untuk melaksanakan sholat subuh berjemaah. Riuh ajakan dari beberapa musholla dan masjid mengajak untuk sholat berjemaah dengan pengeras suara memberikan kehidupan pagi hari ini lebih bermakna.

Riauh ajakan sepertinya tidak menggetarkan hati untuk melangkahkan kaki ini menuju tempat berwudhu dan memenuhi panggilan dari salah satu tempat yang terdekat. Masih ku terdiam terpesona menikmati suasana pagi hari ini. Entah berapa lama ku menikmati suasana hening ini baru ku langkahkan kaki untuk sekedar berkumur dan membasuh muka yang masih terlihat jelas garis tempat tidur yang membekas pada wajah ini.

Sendiri kutunaikan kewajiban dirumah, semoga bukan merupakan sebuah kesalahan besar karena ku tak datang memenuhi panggilan subuh tadi.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, semburat cahaya mentari sudah mulai menembus awan putih beriring yang melintas di depan sang mentari. Semakin indah ala mini dengan semburat keemasan caha sang mentari. Kicau burungpun semakin rame menambahkan indahnya suasana pagi hari ini. Cerah alam ini, namun hatiku tak secarah alam. Seakan ada yang menggantung dalam hati ini untuk memaksaku untuk terus melamun mencari sesuatu yang menjadikan diri ini seakan tak mampu beranjak dari tempatku bersimpuh tadi pagi.

Mentari sudah mulai meninggi, semburat cahayanya sudah tak ada lagi. Kehangatan sudah mulai terpancar menerpa kulit menembus baju tipis yang masih membalut sisa bangun tidur pagi. Hangat dan indah ditemani secangkir kopi dan kicauan burung pagi hari. Masih tersimpan Tanya apa yang ada dalam hati ini sehingga seakan berat untuk melangkah maju. Terdiam dan membisu dengan kepulan-kepulan asap dan sruputan kopi hangat yang buat pagi ini.

Hemmm… waktunya beraktifitas. Mandi dan gosok gigi baru aku akan melangkah pergi. Tanpa disadari waktu sudah menunjuk angka tujuh, aku pasti datang terlambat.

Pagi sudah berganti siang, mentari semakin ganas memancarkan panas menjadikan apa yang tertimpa seakan terbakar hangus. Keganasannya seakan akan menghanguskan seluruh apa yang ada di muka bumi ini.

Hemmm… aku betul-betul datang terlambat. Waktu sudah siang menjelang sore. Rasa sadarpun tak kunjung tiba. Ku terlena dengan indahnya alam di pagi hari. Ku terpesona dengan kicauan burung di pagi buta tadi. Ku sibuk mencari peneduh siang hari tadi. Tak terasa waktu sore sudah hampir tiba. Baru aku sadar senja akan segera datang. Terlambat untuk segera menyadari. Bahwa segalanya berjalan sebagai anugerah. Tanpa rasa sadar aku telah lupa mensyukuri waktu pagi yang begitu indah. Memanfaatkan waktu siang yang begitu bermanfaat. Ku terlalu asyik dan terpesona dengan indahnya pagi, terlalu sibuk dengan mencari pelindung diri dari panasnya sang mentari.

Aku datang terlambat, tanpa disadari senja akan segera tiba. Semoga menjelang senja masih dapat kunikmati indahnya sore hari seperti indahnya pagi hari walau mungkin tak lagi ada kicau burung serame pagi tadi. Semoga mentari sore masih bisa memberikan kehangatan sehingga aku tak lagi harus sibuk mencari pelindung malam hari yang pastinya akan sangat dingin nanti.

Suara Kalam Alam

Hujan mengguyur bumi Pakong persada cukup deras, menjadikan malam ini cukup dingin menyengat ditambah lagi angin bertiup cukup kencang. Haruskah kutarik selimut untuk menghangatkan diri, dan sangat mungkin akan mengantarkan diri ini larut dalam buaian mimpi sesore ini.

Suara air yang tertinggal didedaunan masih jelas terdengar terhempas menerpa dedaunan yang lain seiring dengan hembusan angin malam inj. Suara jangkrik sudah mulai mengslunkan lantunan suara alam memuji rahmat sang pencipta. Tampaknya malam inj akan ada hiburan graris lantunan suara alam bersama memuji sang pencipta.

Haruskah aku menarik selimut dan larut dalam buaian keterlelapan yang tidak jelas kemana arahnya???? Haruskah ku kalah dengan suara-suara lantunan kalam alam memuji mensyukuri rahmat sang pencipta dengan diturunkannya hujan??? Seakan mereka bersorak gembira merayakan rasa syukur atas karunia hujan sore hari ini. Sementara diri ini hanya mampu menarik nafas dalam menahan dinginnya malam imi.

Mereka merayakan kebahagiaan bersama dengan lantunan suara alam memuji sang pencipta, sementara diri ini seakan dinginnya malam ini terasa menyiksa??? Terus kapan kita dapt merasakan senang dengan sesuatu yang mungkin kurang berkenan bagi diri kita. Haruskah kita mengatur Tuhan dengan memberikan sesuai dengan yang kita inginkan, sesuai dengan yang nyaman manurut akal dan pikiran kita.

Pernah timbul sebuah pertanyaan dari diri ini, kenapa kita harus berdoa, meminta apa yang kita inginkan kepada sang pemberi. Sementaa sang kuasa telah mengatur kesemuanya jauh sebelim kita diciptakan. Mengatur segala hal sedetail nungkin tanpa ada yang dapat terlewatkan sedikitpun. Perjalanan kehidupan dunia ini sudah ada skenario lengkapnya, bahkan jika kita merasa melakukan inprovisasi dalam kehidupan hal tersebut merupakan bagian dari skenario yang sudah ada jauh sebelum dunia ini diciptakan.

Jika segalanya sudah diatur sesuai dengan garis yang ditentukan, kenapa kita juga harus berdoa supaya ada perbaikan dari yang telah kita alami dan kita jalani. Apakah bukan merupakan hal yang kurang etis jika berdoa dan meminta, seakan kita mengatur tuhan agar merubah sesuatu yang sudah ditentukan sebelumnya dan hal tersebut terasa tidak nyaman bagi kita. ( Minggu, 18 Januari '15)

(Senin, 19 Januari '15). Wkatupun terua berputar, malam berganti dengan siang. Walau seakan malau-malu, mentari menampakkan wajahnya yang terlihat sayu terhalang awan pagi hari ini. Sedikit terasa hangat pancaran sinar mentari, kicauan burung terdengar menyanyikan lantunan suara alam yanh begitu merdu menambah indahnya suasana sekalipun mentari masih sering bersembunyi dibalik awan.

Sementara diri ini hanya dudk termenung duduk menciptakan awan-awan kecil yang begitu cepat memudar terbawa hembusan angin yang begitu lembut pagi hari ini. Sementara kicauan burung melantunkan kalam alam yang begitu merdu memuji sanh pencipta, memuji sang penguasa alam, sementara hati ini hanya memikirkan hal duniawi tanpa terbersit pujian terhadap sang pencipta.

Menikmati Syair Lagu Evi Tamala

Menikmati Syair Lagu Evi TamalaMinggu pagi menjelang siang mentari bersinar terang memanasi bumi yang beberapa hari ini diselimuti kabut tipis menjadikan suasana dingin menusuk tulang. Pagi yang cerah di hari minggu tanpa adanya aktifitas berarti memberikan kehangatan raga, dan jiwapun merasakan kehangatan itu. Subhanallah luar biasa keadilan-Nya dalam mengatur cuaca yang dirasakan manusia sehingga banyak variasi rasa yang dirasakan. Ada dingin, hangat dan panas sehingga kita dapat menikmati hidup yang bervariasi dan tidak menoton.

Lebih banyak mengeluh, itu yang kerap terjadi pada diri ini. Mengeluh atas karunia dingin yang diberikan, mengeluh karena panas, mengeluh karena hujan, dan masih banyak keluahan lain yang semestinya harus disyukuri. Allah tidak menurunkan sesuatu yang sia-sia bagi umatnya, segalanya penuh dengan perhitungan matematis dan statistika yang jauh dari jangkauan pola berpikir manusia, secerdas apapun manusia itu, secanggih apapun teknologi yang dimiliki tidak akan mampu menjangkau apa yang telah digariskan dalam kehidupan dunia ini.

Seharusnya diri ini tidak sekedar bersyukur karena mampu membeli sebuah selimut usang untuk mengurangi rasa dingin yang menusuk tulang. Rasa dingin itu perlu juga disyukuri karena kita membeli selimut untuk mengurangi rasa dingin dapat kita manfaatkan dan tidak menjadi hal sia-sia. Untuk apa memiliki selimut tebal sekalipun jika kita tidak merasakan dingin. Bukan sekedar menghilangkan kesia-siaan terhadap yang telah kita miliki, adanya hubungan dengan orang lain merupakan anugerah. Musim yang dingin menjadikan para penjual selimut memiliki keuntangan yang lebih dibandingkan musim panas. Menjadikan kita mengenal paling tidak tahu adanya penjual selimut.

Namun, ternyata diri ini masih lebih banyak mengeluh terhadap apa yang terjadi pada diri ini, apa yang tampak di depan mata. Sementara Allah telah memberikan limpahan rahmat yang menjadikan kehidupan ini terasa indah dan nyaman. Kita merasakan dingin karena kita merasakan panas pula. Adanya keseimbangan. Adanya santai karena adanya kesibukan. Semua berpasangan dan tidak dapat dielakkan, enak dan tidak enak saling berkaitan erat dalam satu kesatuan lingkaran kehidupan yang menjadikan variatif dan memberikan keindahan.

Sedih dan bahagia yang kita rasakan, kita bahagia karena kita juga merasakan kesedihan. Seandainya kita hidup dalam kesusahan yang terus menerus maka kita tidak akan pernah merasakan apa itu yang dinamakan bahagia. Kita tidak akan pernah mengenal kebahagiaan.

Pada ngelantur kemana, tak ada keterkaitan judul dan isinya. Tapi biarlah tulisan ini menjadi tulisan asal nulis. Judul menjadi judul yang ingin dituliskan dan terbersit ketika alunan suara artis cantik melalui alunan lagu dangdutnya menjadi awal pembuka tulisan ini. Mengalir apa adanya, dan semoga saya, serta kita semua dijadikan manusia yang bisa mensyukuri atas segala nikmat-Nya. Ditambahkann kebarokahan disetiap waktu. Diberikan kesehatan, rejeki yang penuh barokah dan limpahan rahmat-Nya.

Sekalipun lagu sudah berakhir, namun kehidupan kita masih dalam perjalanan menuju tujuan kehidupan yang sebenarnya. Semoga senantiasa kita dapat menjalaninya dengan penuh syukur dan merasakan keindahan dalam setiap alunan langkah irama kehidupan. Aamiin.....!!!!!