Masih Pantaskah Mengaku Sebagai Blogger

Paling tidak mengaku sebagai blogger pernah memiliki kesempatan menuangkan kata-kata yang mungkin saja dari sebagian kata merupakan curahan isi hati. Paling tidak pernah memiliki karya yang tidak terlalu baik dengan kata-kata indah yang puitis dan romantis. Paling tidak pernah membuat sebuah gambar yang merupakan sejarah karya terbesar yang penah dimiliki.

Fast Track Guide Internet Marketing

Sejatinya menurut saya Fast track guide internet marketing yang mudah adalah mempergunakan logika, insting, dan keyakinan. Tetap pada prinsipnya, apapun yang kita jual selama memberikan manfaat akan tetap laku dan bertahan dalam jangka waktu yang lama

Cara Mudah Cek Backlink

Update algoritma menyatakan artikel terbaru dengan kata kunci serupa akan mendapat kesempatan masuk halaman pertama hasil pencarian (SERP)

Best Free SEO Tools For Blogger and Internet Marketing

Trafik yang lumayan dengan kisaran visitor 10K dan page view 30K. Tentu hal tersebut bukan semata karena keberhasilan trik SEO yang diterapkan, bisa jadi karena sebuah hal tersembunyi yang merupakan rahasia yang sulit dipecahkan dan tidak dapat ditemukan secara teoritis mempergunakan mesin pencari seperti apapun.

Memahami Duplicate Content dan How to Solve It?

Sebenarnya apa yang dikatakan dengan Duplicate Content? Ada berbagai descripsi yang menjelaskan tentang definisi duplikat konten. Ada yang menafsirkan adalah kesamaan konten atau konten serupa dalam hasil pencarian mesin pencari yang memberikan definisi sama dari web yang berbeda.

Ahok Berhasil Menyatukan Indonesia

Ahok Berhasil Menyatukan Indonesia "Citro Mduro"Assalamu'alaikum Wr. Wb.  Entah dari mana memulainya untuk merangkaikan kata-kata sebagai awal kalimat dari sebuah judul yang telah terlanjur dipilih ini. Alasan yang tidak jelas sehingga Ahok Berhasil Menyatukan Indonesia terlintas begitu saja dan dijadikan sebagai judul dari posting kali ini. Apakah efek dari tulisan sebelumnya yang juga tidak nyambung, atau alasan yang lain? Siapa yang akan menjawab jika yang membuat tulisan masih melemparkan pertanyaan?

Terlepas dari segala macam alasan mengapa judul Ahok Berhasil Satukan Indonesia sebagai judul, dan mungkin ini sekedar opini tak beralasan dari seorang blogger madura yang mengaku sebagai The Real Madura Blogger yang jarang aktif dalam dunia internet. Blogger kok jarang update blognya..!!! he.. he.. he... jadi tertawa sendiri nich. Apakah sudah gila ya karena lama tak update tulisan sehingga tak konek-konek dan tulisanpun tak nyambung-nyambung.

Sebetulnya berawal dari iseng-iseng mencari gambar seputar aksi 212 sehingga opini tulisan ini terlahirkan dan judul yang terpampang secara tidak sengaja terpilih. Entah apakah akan mengundang kontroversi atau bahkan akan terbuka sebuah interkoneksi yang lebih jauh khususnya bagi penulis. Siang ini tanggal 28 desember sekitar 26 hari dari aksi tersebut berlangsung baru opini tersebut dapat dipublikasikan walaupun sebelumnya memang tidak terlintas untuk beropini tentang hal tersebut melalui posting blog. Ketinggalan kereta ya..???? tapi biarlah ketinggalan kereta, terlambat dan teramat sangat terlambat untuk mengupas tentang hal ini walaupun belum dapat dikupas secara bersih dan masih tersisa getah-getah yang perlu dicuci lebih lanjut dengan pemutih akan lebih clear dan cling...

Masih berputar-putar untuk masuk pada bahasan dari judul yang dipilih, karena terus terang kabar lebih lanjut tentang hal tersebut tidak tahu menahu karena kekuperan tentang informasi terkini dan terdahulu sekalipun. Tanpa dilandasi oleh referensi yang jelas sekedar ingin menulis saja, dan sebagai label posting dipilih menulis dan isinya sekedar menulis.

Dari penulusan gambar melalui mbah yang konon katanya pinter dan serba bisa untuk memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan maupun pernyataan, memang di dapat gambar-gambar luar biasa terlebih lagi dilingkungan Monumen Nasional "MONAS" waktu aksi tersebut berlangsung. Bahkan sangat mungkin jika mengamati gambar-gambar tersebut, jutaan orang tertumpah ruah diseputar Monas dan sekitarnya yang cukup jauh mungkin karena memang seperti apa jakarta kurang tahu juga.

Nah, dari gambar tersebut sepertinya tidak salah kalau judul ini menjadi pilihan dan diangkat sebagai tulisan sekalipun bukan sebagai opini publik ataupun private opinion. Kenyataannya yang hadir dalam aksi tersebut dalam satu naungan bendera dan tidak lagi bernaung pada bendera organisasi-organisasi Islam yang mereka pegang. Dalam satu bendera Islam.

Mengingat hal tersebut sebagai umat islam walau sangat mungkin masih jauh dari kategori sebagai seorang muslim merasa bangga bahwa negeri ini memiliki umat yang memiliki solidaritas tinggi atas agama Islam. Allahu Akbar, maha suci Allah yang telah menurunkan Ahok sehingga seluruh umat Islam Negeri ini tergerak untuk bersatu. Saya yakin se yakin-yakinnya bahwa sebagian besar dai umat islam Indonesia mendukung aksi tersebut, sekalipun ada dari sebagian yang kurang setuju dengan aksi 212 meskipun keyakinan saya mengatakan bahwa dalam hati kecil mereka sebetulnya sangat setuju dan mendukung sepenuhnya dan tidak mungkin untuk ditampakkan secara dahiriyah.

Sunggu luar biasa kehendak Allah untuk menyadarkan sebagian besar umat Islam Indonesia untuk bersatu dan berpegang teguh pada tali persaudaraan, dan terus menjalin silaturahmi. Bukan saling menyalahkan satu dengan yang lain. Meskipun berbeda mazhab dan cara pandang dalam melaksanakan ibadah, namun sebetulnya semua adalah Islam yang harus terus bergandengan tangan selama dalam satu tujuan untuk mendapatkan ridho ilahi robbi, bukan saling menyudutkan dan menyalahkan serta menganggap akulah yang paling baik dan paling dekat dengan sang kholik karena ibadahku paling benar dan baik.

Sebagai penutup tulisan yang sebenarnya belum dimulai ini, maka jangan tutup laman ini sebelum anda mengobrak abrik isi yang ada meskipun belum seberapa yang dapat anda temukan. Dan pada akhir tulisan mari kita berdoa bersama semoga kita senantiasa mendapatkan petunjujuk dan kemampuan untuk menjalankan segala perintah-Nya, diberikan kemampuan untuk menjauhi segala larangan-Nya, sersta diberikan kemampuan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah kita rasakan dengan berucap Alhamdulillah. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Menyikapi Kondisi Karut Marut Negeri Ini

Menyikapi Kondisi Karut Marut Negeri Ini "Citro Mduro"Jika dikatakan negeri ini sedang karut marut sepertinya terlalu berlebihan, buktinya masyarakat masih dapat menjalankan rutinitas seperti biasa. Para petani masih dapat menggarap sawahnya untuk bercocok tanam, para pegawai masih tetap beraktifitas dikantor masing-masing, walau mungkin ada sebagian yang bermalas-malasan. Para buruh, pekerja pabrik, nelayan, pekebun, dan sebagainya masih tetap beraktifitas sekalipun di dunia maya berbagai informasi dapat kita temukan tentang kondisi negeri ini yang sedang dihantam dengan berbagai macam peristiwa. Ada yang mengatakan negeri ini sedang dalam ancaman bahaya yang dahulunya sudah pernah dibasmi, adanya pergolakan politik, pergolakan ekonomi yang menurut kabar ceritanya ada permainan dan pemain besar yang memang sengaja ingin menguasai negeri ini secara terselubung.

Penulis memangnya mengerti tentang kondisi negeri, paham tentang politik, ekonomi dan sosial budaya?

Sebenarnya tidak ada pengetahuan tentang hal-hal tersebut, namun secara tidak sengaja saja terlintas tentang kondisi negeri ini berdasarkan berbagai share berita dari sosial media yang dijumpai. Dalam pikiran benarkah seperti ini keadaan negeri ini? Penuh dengan ancaman dan kondisi yang bisa dikatakan karut marut?

Tentu bukan suatu hal yang salah jika sekedar ingin menulis tentang sesuatu yang tidak dipahami dan itupun sekedar tulisan yang tidak akan memberikan pengaruh bagi para pembaca jikalau memang ada yang berkenan membacanya, terlebih lagi bagi negeri ini. Tidak memberikan sumbangan yang berarti karena memang hanya kemampuan beropini melalui tulisan yang belum pantas disebut sebagai opini.

Hanya memandang dan itupun sekedar mengintip dari celah yang teramat kecil dengan kaca mata yang sudah teramat buram. Melihat dan sedikit berpikir tentang negeri ini mulai dari informasi yang diperoleh tentang kasus penistaan Alqur’an Surah Almaidah. Sebagai orang yang sekedar beragama islam terus terang informasi tersebut sempat menyentakkan hati walau tidak sampai bergetar, sekedar sempat terlintas kenapa orang yang akan mendaki begitu beraninya untuk melakukan hal tersebut. Tapi mungkin saja hal tersebut sudah digariskan agar kita sebagai orang yang mengaku beragama islam harus sadar bahwa kondisi kita saat ini seperti ini adanya. Selama ini kita tertidur dan lebih sering tanpa disadari kita sendiri yang mengagungkan Alqur’an tapi tanpa disadari telah menodainya. Tapi mungkin itu hanya pemikiran saya saja yang terlalu bodoh tentang alqur’an dan tidak patuh dengan ajaran agama yang dianut dengan alasan turun temurun, karena ayah, ibu, kakek dan nenek saya beragama islam sehingga saya juga beragama islam sekalipun sangat tidak patuh terhadap ajaran agama dan tidak tahu tentang isi yang harus dipelajari dalam kitab suci agama yang saya anut.

Oke, berlanjut terus opini ngawurnya.

Berdasarkan informasi yang didapat dari share pada sosial media, informasi dari penistaan agama berkembang pada boikot memboikot, curiga dan saling mencurigai walau mungkin hal tersebut sebatas sosial media dan dari salah satu sisi saja yang saya dapatkan, sementara sisi lain mungkin masih belum bisa saya singkap karena tabir tebal yang belum mampu untuk saya singkapkan. Namun paling tidak ada perkembangan wawasan tentang negeri ini meskipun dari salah satu sisi. Dan yang jelas negeri ini masih memiliki kekuatan yang sangat besar dan hal tersebut sudah dibuktikan pada aksi damai 2 Desember beberapa waktu lalu. Dan statistik kependudukan negeri ini mengatakan ada lebih dari 200 juta jiwa yang saya yakin kesemuanya siap untuk mempertahankan NKRI, walaupun mungkin ada sebagian kecil yang ingin merongrong negeri ini bagaikan tikus tanah yang terus menggali secara perlahan.

Kenapa juga sampai pada tikus tanah, lagian sudah banyak cara untuk mengatasi tikus tanah. Jika memang negeri ini mendapat ancaman dari tikus tanah, tentu akan banyak cara untuk mengatasinya, namun selagi tikus tersebut sekedar menggali untuk mencari makan dan tidak menimbulkan kerusakan, sepertinya kita biarkan saja. Mencari makan dengan menggali memang sudah sudah kodrat tikus untuk mendapatkan makan dengan cara tersebut. Selama tidak merusak tanaman disawah, merusak yang lain kita biarkan tikus-tikus tersebut, nantinya juga akan disantap kucing, ular, burung hantu, dan masih banyak hewan-hewan lain yang akan memangsa tikus-tikus tersebut.

Waduh ... malah ngelantur pada berbagai hewan, bisa jadi tulisan ini akan menjadi kebun binatang. Dari pada sampai terlalu banyak mengkoleksi hewan-hewan dan tidak akan menjadi kebun binatang, sepertinya dihentikan sekian saja tulisan ini sekalipun belum ada kesimpulan yang dapat dijadikan simpul sebagai pelajaran pramuka hari ini.

Mulya Karena Berkarya

Mulya Karena Berkarya_citro mduro25 November dirayakan dengan melaksanakan upacara bendera hampir disetiap sekolah, termasuk disekolah tempat selama ini aku berbagi pengalaman dan sedikit yang saya ketahui dengan sesama teman sejawat maupun dengan mereka yang dikatakan sebagai peserta didik. Memperingati hari tersebut sebagai hari guru sekaligus ulang tahun PGRI yang diperingati setiap tahunnya. Tema yang diusung pada tahun ini berdasarkan pidato tertulis dari menteri pendidikan yang disampaikan oleh pembina upacara pada acara tersebut adalah “Pendidik dan Tenaga Kependidikan Mulya Karena Berkarya”.

Kemulyaan didapat karena karya yang telah kita hasilkan, namun karya apa yang telah saya persembahkan untuk negeri ini? Apakah tulisan yang belum tentu memberikan inspirasi bagi para pembaca yang itupun masih belum tentu ada yang berkenan untuk sekedar datang dan membaca yang telah dituliskan. Atau kegiatan rutin dengan sebutan sebagai seorang guru? Sementara sebutan tersebut hanya sekedar sebutan, tanpa ada profesionalisme sebagai seorang guru.

Sebenarnya siapa yang mendidik dan siapa yang menjadi subjek dari pendidikan tersebut?

Secara umum, murid atau siswa adalah subjek dari pendidikan. Mereka yang akan digembleng untuk menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki pendidikan, memiliki pengetahuan sebagai bekal menghadapi perjalanan hidup mereka. Tentu saja mereka harus belajar sebagai tuntutan dan kewajiban sebagai seorang pelajar. Namun apakah hal tersebut memiliki kebenaran yang mutlak?

Apakah guru tidak perlu belajar, dan tidak butuh didik sehingga menjadi guru yang berpendidikan, serta para tenaga kependidikan juga tidak perlu lagi di didik atau paling tidak mendidik dirinya agar menjadi tenaga-tenaga yang memiliki pendidikan dan terdidik.

Bingung sebetulnya untuk melanjutkan tulisan ini, kemana arah cerita yang akan diceritakan. Jangankan para pembaca, yang menulis saja juga bingung jika membaca ulang dari tulisan yang sepertinya tidak akan lagi diedit ulang. Biarlah terbit apa adanya sekalipun tidak ada apa-apanya. Bahasanya juga tidak enak, judulnya tidak asyik, cerita kalang kabut penuh dengan pertanyaan yang tidak terjawabkan.

Humor bukan, horor juga bukan. Terus apa tema utama dari tulisan ini? Tema utamanya adalah menulis dan mencoba lagi belajar menari-narikan jemari diatas tombol papan ketik setelah cukup lama tidak berjibaku dengan papan keti untuk melemaskan jari jemari yang sudah sedikit kaku ini. Persoalan tidak enak dibaca atau tidak nyambung itu bukan inti permasalahan dan memang tidak dipermasalahkan dalam isi cerita kali karena memang sebenarnya tidak ingin membuat sebuah permasalahan karena permasalahan yang tidak diceritakan melalui tulisan sudah kompleks dan belum terselesaikan. Sekedar menulis, bercerita yang tidak menentu ujung pangkalnya dan inilah karya yang dapat saya persembahkan untuk ikut meramaikan hasil pencarian google dengan kata-kata yang mungkin saja terjaring dari beberapa kata yang ada pada tulisan kali ini.

Sebagai kata akhir dan menutup tulisan kali ini, biarlah cerita ini tidak jelas, yang terpenting adalah adanya silaturahmi sekalipun hanya dengan ucapan hai, atau halo melalui kotak komentar yang terbuka pada bagian bawah tulisan ini.

Nunggu Hari Baik Buat Update Posting

Nunggu Hari Baik Buat Update Posting_Citro MduroDahulu semasa aktif ngeblog dengan tulisan ala kadarnya selalu saja menemukan ide untuk dijadikan tulisan. Mendapatkan inspirasi dari lingkungan sekitar, dari sesuatu yang dilihat atupun dibaca. Karena memang waktu itu sedang menimati pembelajaran dunia blogging tentang menulis dan banyak hal lain yang dipelajari dan langsung dipraktekkan.

Namun setelah cukup lama vakum dari kegiatan blogging baik itu sekedar spaming tebar link melalui kotak komentar tanpa membaca artikel yang dituju secara lengkap, kemampuan untuk berkreasi melalui tulisan teramat jauh menurun, seakan kehabisan ide untuk dijadikan bahan tulisan. Lingkungan tak lagi memberikan inspirasi untuk dijadikan sebuah tulisan sekalipun tidak enak dibaca. Jika teringat istilah bisa karena terbiasa, itulah saya sebagai pengelola blog ini dahulunya. Seiring waktu semangat yang menurun, dan kebiasaan tersebut sudah jarang dilakukan, maka kebisaan juga tidak lagi menghampiri. Butuh waktu yang cukup lama untuk menghasilkan sebuah tulisan yang akan dipublikasikan melalui blog walaupun akhirnya juga tanpa pembaca.

Sepertinya memang harus menunggu hari baik untuk posting seperti yang disampaian oleh senior blogger dalam komentar beliau pada status facebook yang saya luncurkan "Mungkin nunggu hari baik kalau mau posting".

Kapan hari baik tersebut? Saat ini adalah hari baik, pas malam jumat hari yang sangat baik untuk melakukan posting dengan menghadirkan tulisan dengan gaya menulis seperti biasaya. Asal nulis dan semoga tulisan yang asal-asalan ini tidak menyinggung perasaan orang lain, biarlah orang yang membaca jikalau ada tersungging saja tanpa adanya rasa tersinggug dengan isi tulisan yang tak bermakna dan tak bersyarat.

Sebagai penutup dan mengakhiri tulisan kali ini, semoga saja permulaan ini adalah awal yang baik sebagai hari baik untuk menghasilkan karya-karya yang lain meskipun memang karya semacam ini yang dapat saya persembahkan kepada para pembaca yang sempat tersasar menjumpai tulisan-tulisan di blog ini. Semoga tidak ada rasa kekecewaan setelah mendapati apa yang tidak anda inginkan. Salam BHINEKA TUNGGAL IKA dari Pamekasan Madura melalui blog yang tidak memberikan inspirasi ini.

Blogging Is Complete Learning

Blogging Is Complete LearningBerbagai jenis model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Ada yang dikatakan model pembelajaran berbasis masalah (Problem Base Learning), scientific learning, project learning dan entah model pembelajaran apa lagi yang ada dan dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di dalam maupun di luar kelas. Setiap guru tentu memiliki metode pembelajaran yang beragam dalam pelaksanaannya, apakah mengacu secara teoritis model pembelajaran, ataupun langsung praktek sesuai dengan kondisi yang diperlukan dilapangan dalam menghadapi siswa di kelas maupun diluar kelas.

Selain model, metode yang dipergunakan juga akan memberikan pengaruh pada hasil belajar siswa. Namun siapa sebenarnya yang belajar? Siswa ataukah guru yang dikatakan sebagai pengajar?

Untuk menjawab pertanyaan diatas, tentu harus melihat sudut pandang untuk menjawab pertanyaan tersebut, apakah sudut lancip ataukah sudut tumpul, atau bahkan seolah-olah tanpa sudut untuk mendapatkan jawaban tersebut.

Hemm.... dari pada pusing membahas sesuatu yang kurang dipahami dan baru saja diketahui, mending menulis tentang sesuatu hal yang lebih diketahui. Pertanyaannya adalah “Model Pembelajaran Seperti Apa Yang Dipergunakan Dalam Kegiatan Blogging?”.

Jika saya boleh mengatakan Blogging Is Complete Learning. Emangnya ada yang melarang saya untuk mengatakan hal tersebut?

Oke, terlepas ada larangan atau tidak, yang penting tidak ada yang tersinggung sekalipun mungkin anda harus tersungging menyimak hal tersebut. Mari Oleh karena itu kita akan mencoba membahas satu persatu sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan penulis, dan anda juga boleh berinteraksi setuju ataupun penolakan terhadap apa yang sudah dituliskan pada BLOG INI.

Scientific Learning. Adakah model pembelajaran seperti ini dalam kegiatan blogging? Tentu saja ada. Seorang blogger tentu harus memahami teori-teori dasar seputar blogging. Bagaimana cara update posting dalam blog, harus tahu tentang tata letak posting dan masih banyak hal lain yang perlu dipelajari sekalipun hal tersebut masih sebatas teoris dari hasil membaca ebook ataupun sharing dari sahabat-sahabat blogger yang telah mengajarkan teknik dasar blogging. Bahkan sampai belajar tentang optimasi blog itu sendiri untuk mendapatkan peringkat yang baik dari sudut pandang mesin pencari yaitu google yang banyak dipergunakan oleh para netter.

Problem Based Learning. Pembelajaran berbasis masalah sudah tentu harus dilalui oleh seorang blogger. Tidak memandang apakah anda seorang neubie ataupun profesional blogger. Mengingat permasalahan yang akan dihadapi oleh seorang blogger akan semakin kompleks seiring pengalaman yang dilewati dalam perbloggerran. Rasa ingin tahu dengan permasalahan tampilan yang tidak sesuai dengan yang diinginkan, mendapatkan masalah optimasi dan terus mencari informasi untuk mengatasi masalah tersebut sehingga permasalahan dapat diselesaikan Problem solving.

Project Based Learning. Dengan yang satu ini tentu sudah dilewati dengan produk paling sederhana adalah posting blog sekalipun itu adalah tulisan yang tidak enak dibaca, ataupun pengalaman lain seputar optimasi blog sehingga menjadi Number One, Top Google Ranking.

Metode apa yang akan anda pergunakan?.

Apakah anda hanya akan mempelajari secara teoritis tentang ilmu blogging, atau anda akan belajar melalui masalah yang anda hadapi seputar blogging dan menghasilkan sebuah karya? Ingin menjadi seorang blogger milikilah blog seperti apapun dan lakukan perbaikan sedikit demi sedikit sambil lalu belajar. Kata orang kuno belajar sambil bekerja dalam bahasa yang lebih kuno lagi Learning By Doing. Lakukan analisa dari blog yang kita miliki dan benahi apa yang menjadi permasalahan sehingga akan menjadi sebuah karya yang akan memberikan tingkat kepuasan bagi kita sekalipun itu mungkin hal yang sudah tidak berlaku bagi orang lain.

Dan sebagai penutup, mari kita berintereaksi melalui kotak komentar yang tersedia pada bagian tulisan ini untuk berbagi pengalaman dan meningkatkan pembelajaran kita dalam dunia perbloggeran.

Interpret Taqwa and Surrender To Allah

Interpret Taqwa and Surrender To AllahTakwa, we often said, and seemed to give the meaning of submission and surrender to the will of the Almighty. But in fact the word can only say, and very difficult to apply in our lives. More often we are more confident with the mind, more confident with the power, wealth, and everything is more visible to the eyes and senses.

Meanwhile, everything happens on the will of the almighty regulator, the all-planner, and all-willed. We as humans do not have the ability to do something very, very small though. But we are often too confident of the ability that is in us, so that we eliminate the role of a god. As if what we do is our ability alone, without any help from God. Actually, we are often fooled by our ability. We feel capable of doing many things without the help of God.

For those who do not believe in the existence of god, nature and everything that happens is a natural occurrence. But who created the universe and everything that exists in the universe, of course creator god, the almighty regulator with all the incredible planning thus creating the circulatory system and the natural movement very difficult to know the whole. Only a fraction of the secrets of nature that can be learned, but there are still many secrets that we cannot express with the ability minds, with the sophistication of the technology. There is another side that we must leave it to the almighty regulator, the almighty secret keeper, not a man who is able to reveal the secrets of God.

Okay, perfect human beings are creatures among others. Human beings are given intellect and mind so different from other living beings, unlike animals, unlike plants, and quite different from other creatures in this world.

With mind and thoughts, technological sophistication. Humans are able to estimate the age of the universe, but whether humans are able to predict when the universe will end exactly? Is the human mind that can confirm this? is there any tools that can predict the end of the universe exactly? Yet, even there will never be to make sure the universe will be destroyed and end.

Doctors who already have a lot of experience, supported by super-sophisticated equipment, have not been able to predict the age of man for sure. Many events that deviate. prediction of someone who will not be able to survive longer because of an illness, was still given the opportunity to continue breathing, while many people who died in a healthy condition and the cause of death beyond prediction.

Smart as anything the ability of human beings, as well as any sophisticated equipment that successfully created. Will not be able to reveal the secret veil of god as a whole, only the creator knows that the universe will end, all beings will perish.

Values of faith is required, be sure that everything will be over. And with the fear of GOD Almighty, so that everything ends well, as well as a benefit to us all.

How happy People Can Pray

How happy People Can PrayFor a Muslim, prayer is an obligation that is not negotiable. As with any condition obligatory prayers fulfilled by a Muslim, 5 times a day and 17 cycles. No matter as whatever the circumstances, hard, happy, rich, poor, healthy, sick, busy or are relaxing during still, obligatory five-time obligations are not negotiable in order to leave though. If already puberty such obligations cannot be abandoned, even given a convenience for those who truly under certain conditions such as a sick person should do the prayers while back, even at the end of age even when a Muslim is dead, it is obligatory for who lives nearby to do body of a Muslim prayer. So strong obligation for a Muslim prayer that the deceased had to be in prayer right.

Every man who had vowed to read the two sentences creed it is obligatory and should not leave these obligations though, that prayer. While other obligations still exist terms and conditions to be able to carry out. Fasting for example, sick people should not fast and replace it with a fine in accordance with the provisions that have been determined (expiation). Hajj obligation only for the Muslims, who are able, tithing, only apply to those who are able, while those who cannot afford to tithe, is entitled to receive the distribution of zakat. As with the non-negotiable prayer to be able to leave it, or replace it with a fine (expiation), must still be carried out without even abandoned.

How happy a man who has sworn with two sentences creed and prayers properly, can uphold the prayer. Lots of information about the true prayer praying that if someone, then the behavior will also be true. An incredible happiness they Muslims who have been able to do and enforce prayer properly, so that his actions will be judged as something that is right before God the Creator, before the Supreme Appraisers.

While self is already 38 Years breathe in the fresh morning air, enjoying the warm sunlight, and looked at the beautiful natural scenery that was created for humanity to think and be grateful for the gifts given to the Supreme Court. But what form of gratitude that has this self done as a form of devotion to the Creator. Prayer is also still not right, reflected in the behavior that deviates too far, very far away from stating if true prayer is a person, and then it will correct his actions. Never will reflect on behavior in everyday life, the obligatory prayers are still often neglected. Let the Sunnah, which must still struggled.

How happy they were already able to prayers properly, plus they can add sunnah prayer-prayer. They are the chosen ones are given the opportunity to frequently meet directly with his God, speak directly and ask for what they need. how happy those who can uphold their prayer properly, and being privileged human beings who often face to face, turned my face and hearts directly to Allah.

When did this self instructions, so it can talk directly with the Kholik, praying in humility 'and full of solemn, constancy in keeping time to regularly report any actions and seek forgiveness for any mistakes. How Happy They Can Prayer.

Towards hungry Midnight

Towards hungry MidnightGood eating patterns not just consuming food quality and has a high nutritional value as recommended in the health sciences. While it is in fact it is true. We eat not just to satiety, but also provide enough nutrients for the body to be used for activities both physically and mentally.

Food was also not to be always tasty and savory, if that in fact this tongue is like picking the food was tasty and according to taste.

But I think, again just my opinion perhaps, the most important is the food patterns of thinking that makes it good or bad, not tasty or delicious, so as to create an atmosphere of dining delights or no favors. Patterns of thinking that I mean think about eating. Does eating it is a necessity or just a desire. If just a desire, not necessarily the food was expensive and looked delicious can be perceived with a tasty and delicious, but if the mind is said that eating it is needed, then like any food served will taste delicious and scrumptious. Moreover, if we needed to eat in accordance with what we want, it would be truly extraordinary.

This time around midnight, stomach feels hungry. This is certainly due to irregular eating patterns. Due to irregular eating, causing while others have started to knit their dreams, I have to starve and leafed through the detritus in the kitchen, and acquired almost all empty. Unless raw rice, and even then the remaining few glasses. Hemmmm .. need to be washed and put in the appliance to cook rice. Being a chef suddenly and in an emergency.

While waiting for the ripening rice, this article was published, due to the emergence of the idea of writing just came out. What will make the atmosphere a delicious meal? It seems to be strongly favors considering and weighing the stomach condition that is experiencing conditions demonstration of the residents therein.

Alhamdulillah, so delicious incredible because I was given the opportunity to feel hungry, I was given the opportunity to open up food supplies in the kitchen, are given the opportunity to wash a few cups of rice left over and cook it. Let me not given hunger, or even cannot feel it. Do I still said to be human? Perhaps I am no longer a human being because it cannot feel hungry, and are unlikely to know what is called satiety.

Hungry turns up to scrutiny are an extraordinary grace which we are unaware. Did not find the food in the kitchen is also a favor we sometimes think of as disastrous. Because sometimes we lack circumstances be remembered by the Grantor fortune, if not feel hungry and sees the conditions in the kitchen tonight, maybe I was late in the dream that is not necessarily beautiful.

Subhanallah, I hope I did not ever given lessons by hunger, but hopefully get lessons and always remember Him in a state of satiety and full of joy full of blessing, as well as the readers everything that had stopped finding of this paper.

In conclusion, keep your diet while they are there to eat before the pleasure of eating it lifted and we can not feel the hunger and satiety. Grateful for what you got, and are patient with that have not been obtained. Hopefully this is an expression of my gratitude while waiting to be eaten cooked rice with a pestle and mortar Cenge ACAN In Madura Language (chili paste)

Pemimpin Adil Tapi Non Muslim, Atau Pemimpin Muslim Yang Dhalim???

Pemimpin Adil Tapi Non Muslim, Atau Pemimpin Muslim Yang Dhalim
Negara Indonesia adalah Negara yang berasaskan Pancasila dengan Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila pertama dari dasar Negara tersebut. Berdasarkan sila pertama pada dasar Negara, setiap warga Negara berhak dan wajib mengenal Tuhan YME yang dalam artian berhak dan wajib memiliki agama. Bagaimana jika warga Negara yang tidak beragama? Seharusnya warga yang tidak memiliki agama bukan warga dari Negara yang mengakui ketuhanan yang maha esa sebagai sila perta pada dasar Negara yang menjadi landasan Negara.

Siapa yang dikatakan warga Negara? Warga Negara adalah semua orang yang diakui secara hokum oleh sebuah Negara menjadi warganya, apapun jabatannya. Apakah sebagai rakyat jelata dengan kehidupan yang tidak jelas, ataupun pejabat tinggi Negara yang memiliki kehidupan yang mapan, ataupun penjahat Negara sekalipun yang sudah berada diatas kemapanan hidup bahkan berlebih. Dari semua elemen tersebut berdasarkan sila pertama pancasila wajib memeluk agama dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Beberapa pekan terakhir pada social media rame tentang Pemimpin Kafir yang adil tau pemimpin muslim yang dhalim? (tapi sepertinya hal tersebut terbatas dari yang saya ketahui), namun sebenarnya apa yang dikatakan dengan kafir jika kita merunut pada dasar Negara kita yaitu pancasila? Menurut saya, sekali lagi menurut saya, yang dikatakan kafir adalah mereka yang tidak mepercayai Tuhan Yang Maha Esa. Dan seharusnya dinegeri ini tidak ada orang kafir, dan mereka yang tidak percaya dengan Tuhan, bukanlah warga Negara Indonesia yang berasaskan pancasila.

Dari sekian agama yang diakui di negeri ini, kesemuanya meyakini akan adanya Tuhan YME, salah satunya Islam dengan para penganutnya yang dikenal dengan sebutan muslim. Jadi menurut saya dinegeri ini berdasarkan asas Negara ada muslim dan non muslim, dan seharusnya tidak ada orang kafir yang tidak mempercayai adanya Tuhan YME. Nah, berkaitan dengan topic pemimpin Kafir yang adil atau pemimpin muslim yang dhalim, sepertinya kalimat tersebut kurang pas, bahkan sangat tidak cocok dengan kondisi Negara kita yang mengakui adanya tuhan. Jika muslim dan non muslim mungkin lebih cocok.

Siapa yang harus kita pilih, non muslim yang adil, atau muslim yang dhalim? Menurut saya pribadi yang sejatinya mengaku sebagai seorang muslim, jika harus memilih maka saya akan memilih seorang pemimpin muslim.

Oops, apakah saya setuju dipimpin oleh pemimpin dhalim, apa tidak lebih baik memiliki pemimpin yang adil dan bijaksana? Opps, lagi dech…. Saya ulangi lagi, saya memilih pemimpin muslim, bukan pemimpin muslim yang dhalim. Jika benar seorang pemimpin muslim, maka kata dhalim itu seharusnya tidak ada. Muslim yang seharusnya adalah adil, bijaksana, rendah diri, tawakkal, tawadduk, semangat, hati-hati, tidak mudah berputus asa dan masih banyak sifat-sifat muslim yang seharusnya yang diajarkan oleh agama Islam. Tidak ada muslim yang dhalim, jika dhalim berarti bukan muslim, bahkan mungkin mereka adalah kafir karena tidak sesuai dengan ajaran agama mereka yang diperintahkan dari Tuhan, menurut pola berpikir saya muslim dhalim adalah kafir yang sebenarnya, karena mereka berani menentang aturan dan perintah Allah swt.

Ini adalah pola berpikir saya secara tidak jelas yang tidak dapat saya jelaskan, dan sebagai kesimpulan saya tetap memilih pemimpin muslim, karena muslim yang sebenarnya adalah orang yang beragama islam dan menjadi rahmatal lil alamin. Menjadi penyelemat bagi alam dan sekitarnya, bahkan bagi seluruh dunia dan isinya sebagaimana tugas seorang muslim sebagai khalifah dan menjadi rahmatan lil ‘alamin.

Saya tidak mau memperpanjang debat dalam kolom komentar jika ada yang tersasar dalam laman ini. Jika anda setuju silahkan, dan jika tidak juga silahkan. Silahkan juga menjadikan kotak komentar sebagai ajang diskusi, namun jangan sampai menjadikan ajang gonto-gontokan. Mari kita mencoba bermusyawarah demi kebaikan, bukan demi mencapai kata mufakat dan kesepatakan tanpa adanya kesenagan setelahnya.

Apanya Yang Mudah

Apanya Yang Mudah
Mengawali sesuatu ternyata bukan yang mudah. Bahkan untuk mengawali kata untuk dijadikan sebuah tulisan pada pagi hari ini terasa bagaikan beku otak untuk menghasilkan serangkaian kalimat sebagai pembuka awal paragraf, sementara keinginan untuk menulis itu ada walau ide tentang apa yang akan dijadikan tulisan itupun belum terlintas, bahkan sebait katapun sulit ditemukan sebagai pembuka.

Apakah kejadian ini hanya terjadi pada diriku saja, atau dapat terjadi pada siapapun mengalami kebingungan untuk melakukan tindakan awal, termasuk untuk mengawali kata sebagai tulisan. Ah rasanya Cuma aku saja yang mengalami kesulitan untuk memulai menulis, sementara kawan-kawan blogger yang lain masih rutin update posting. Masih banyak ide yang dapat mereka tuliskan dan tidak mengalami kesulitan untuk mengawali sebuah perbuatan termasuk mengawali membuat sebuah tulisan yang akan dipublikasikan pada blog masing-masing.

Pada tulisan sebelumnya walau tidak jelas maksud dan tujuannya saya menulis siapa yang kita percaya, apa yang kita percaya? Dan pada kesempatan kali ini membuktikan bahwa saya adalah orang yang tidak percaya diri. Tidak percaya bahwa dikaruniai kemampuan untuk berpikir, berkarya, bekerja, dan masih banyak karunia lain yang telah diberikan kepada kita oleh sang maha pencipta. Tapi kenyataannya tidak memiliki rasa percaya diri. Jika saja pada diri sendiri masih tidak percaya, bagaimana kita bisa mepercayai tuhan yang telah menciptakan diri ini, memberikan segala apa yang telah dibutuhkan oleh diri kita.

Terus apa yang harus saya tuliskan untuk melanjutkan cerita kali ini setelah cukup lama untuk menemukan kata untuk mengawali cerita pada tulisan ini. Ternyata bukan hanya untuk memulai sesuatu yang membutuhkan perjuangan cukup keras, untuk melanjutkan juga butuh perjuangan. Bagaimana dengan mengakhirinya. Sepertinya tidak akan ada masalah dengan akhir dari sebuah tulisan. Apakah akan berakhir dengan baik atau tidak bukan merupakan suatu kepastian dan tidak akan menimbulkan masalah, jika masih ada masalah yang belum terselesaikan, berarti tulisan tersebut masih belum berakhir, cerita tersebut akan terus berlanjut sampai pada titik tidak ada yang mempermasalahkan.

Terus, apakah menulis itu merupakan sebuah permasalahan yang akan menimbulkan masalah? Lah bagaimana harus menuliskan sesuatu jika hal tersebut akan menjadikan sebuah permasalahan yang sangat mungkin akan dipermasalahkan oleh pihak lain. Jadi takut untuk melanjutkan tulisan, padahal diawal untuk memulai tulisan ini masalah ada pada diri sendiri yang sulit menemukan kata untuk dijadikan pembukaan dalam tulisan, terus berlanjut pada masalah untuk melanjutkan cerita. Apa memang tulisan ini dibuat sebagai cerita bersambung atau bagaikan sinetron ditelevisi yang pakai acara bersambung pada episode selanjutnya.

Tapi bisa juga ya, terserah pada yang mau nulis. Apa dituntaskan dalam satu naskah tulisan, atau dipecah-pecah dalam beberapa naskah dan dikemas dengan judul yang berbeda mungkin untuk menjadikan para pembaca lebih penasaran untuk menafsirkan akhir dari cerita sebuah tulisan.

Iya juga sih kalau tulisan tersebut menyenangkan atau memberikan manfaat, tapi kalau tulisan tidak jelas arah ceritanya kemana, terus yang diceritakan juga tak jelas siapa apakah akan menjadikan pembaca merasa penasaran untuk mengetahui kelanjutan cerita jika dibuat dalam bentuk cerita bersambung. Atau mungkin saja tulisan ini akan ditinggalkan oleh pembaca tergeletak dipinggir jalan tanpa harus diselesaikan membacanya, sehingga tidak perlu tahu apa akhir cerita dari sebuah tulisan tersebut. Permulaan yang tidak jelas dengan alur yang tidak Nampak dan akhir cerita yang sama dan tidak terlihat seperti apa akhir yang dimaksud karena memang dari awal juga tidak memiliki maksud dan tujuan, pantas saja jika tidak menemukan kalimat pembuka untuk mengawali tulisan, dan kesulitan cerita untuk melanjutkan tulisan. Karena memang tidak ada tujuan dari maksud dari sebuah penulisan.

jika memang ada maksud dari sebuah penulisan, tentu dari awal sampai akhir akan didapati sebuah kalimat yang tertata dan dapat dimengerti dengan tatanan bahasa yang lebih mudah dipahami walau mungkin melenceng dari aturan dan kaedah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Terus bagaimana dengan tulisan ini yang tidak ada maksud serta tidak memiliki tujuan? Apakah akan dihapus atau akan tetap dipublikasikan pada blog? Jika gagal untuk dipublikasikan, kasihan jari jemari yang sudah menari-menari membantu untuk menemukan kata-kata yang tersusun menjadi kalimat sampai pada paragraph saat ini. Jika dibuang begitu saja sangat eman dong, biarlah menjadi tulisan yang tidak bermutu dan tidak perlu direnungkan. Karena masih banyak yang harus kita renungkan dibandingkan merenungkan tulisan ini. Jika sudah terlanjur membaca dan menyelesaikan membaca, jangan biarkan anda merenungi apa yang anda baca, apalagi sampai bertanya apa maksud dan tujuan dari sipenulis. Renungi hal lain saja yang lebih perlu untuk anda renungi.

Siapa dan Apa Yang Lebih Kita Percaya??

Siapa dan Apa Yang Lebih Kita Percaya??Jika ada yang bertanya siapa dan apa yang kita yakini?? Tentang sebagai orang yang memiliki keyakinan dan adanya Tuhan Yang Maha Esa akan menjawab Tuhan sebagai puncak keyakinan. Jawaban tersebut sepertinya menjadi jawaban spontan tanpa harus dipikir terlalu jauh, kalau untuk menjawab kita harus berpikir menandakan hal tersebut bahwa keyakinan terhadap Tuhan YME sangat dangkal, atau bahkan mungkin tidak ada keyakinan terhadap Tuhan yang kita percayai dan kita sembah. Walau sebagian besar meyakini dan percaya sepenuhnya kalau tuhan itu memang ada, kecuali memang kelompok yang tidak mempercayai keberadaan tuhan. Tentu hal tersebut tidak perlu kita bicarakan. Bagi kelompok yang tidak mempercayai dan meyakini keberadaan tuhan tentu memiliki keyakinan dan kepercayaan yang lain dan dijadikan sebagai tuhan mereka. Teknologi mungkin, pengetahuan, atau kecerdasan, kekayaan atau banyak hal lain yang lebih mereka yakini dibandingkan dengan tuhan yang secara global banyak diyakini sebagai pemilik, penguasa dan pengatur segala yang ada didunia ini.

Benarkah pada kenyataannya kita betul-betul yakin dan percaya dengan tuhan yang menguasai dan mengatur segala yang ada dan bakal ada di dunia, sesuatu yang telah terjadi, sedang terjadi atau akan terjadi berada dalam kekuasaan-Nya?? Masih secara reflek akan menjawab benar dan yakin seyakin-yakinnya, haqqul yakin percaya bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendaknya, dan segala akan berlaku atas ijin-Nya.

Tuhan Maha melihat, tuhan maha mendengar, tuhan maha mengetahui, maha mengatur, maha berkehendak, maha bijaksana, maha kaya, maha pemberi rejeki, maha memberi, maha pemurah, maha penyayang, dan sebagai orang yang beragama meyakini hal tersebut.

Pertanyaan serupa akan kembali terulang, benarkah kita betul-betul yakin dan percaya bahwa tuhan memiliki semuanya? Jika tuhan berkehendak tidak ada hal yang tidak mungkin, tidak ada yang dapat melarang, tidak ada yang dapat menahan, tidak ada yang dapat memberikan selain datangnya dari pertolongan Tuhan.

Percaya dan yakin jika kita simpelkna dapat dikatakan dalam sebuah kata “TAKWA”. Dari satu kata tersebut timbul kata ketakwaan yang menurut saya diartikan kepercayaan, kepasrahan, ketulusan, kesungguhan, dan entahlah apa padanan kata untuk mendefinisikan. Takwa berarti menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta pasrah bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya, apa yang dilakukan adalah petunjuk-Nya. Kesalahan langkah yang kita lakukan adalah anugerah agar kita ingat dan kembali pada jalan yang menjadi petunjuk.

Benarkah kita yang lemah dapat mengangkat beban melampaui batas kemampuan kita?? Mampukah kita dengan badan yang kerempeng mampu mengangkat beban seberat 1 kwintal? Tentu akan timbul keraguan dalam diri kita, atau bahkan keyakinan terhadap diri kita hilang dan tidak ada sama sekali. Yang ada merupakan keyakinan terbalik, bahwa kita tidak akan mampu untuk mengangkat beban tersebut, malahan sangat mungkin terjadi akan menyebabkan kecelakaan bagi kita jika memaksakan untuk mencoba mengangkat beban itu. Apakah tidak mungkin tuhan yang kita yakini maha memberi, dan maha perkasa tidak mampu memberikan kekuatan pada kita agar mampu mengangkat beban yang tidak mungkin kita angkat? Insting kita akan berkata sangat tidak mungkin beban itu akan terangkat oleh kita, apalagi harus dipindah tempat yang cukup jauh. Apakah ini gambaran kecil bahwa keyakinan dan kepercayaan kita terhadap tuhan yang kita yakini maha memberi, maha perkasa, maha kuat sudah tidak ada, dan lebih meyakini insting kita yang langsung mengatakan bahwa kita tidak akan kuat?

Entahlah, hanya ini yang bisa saya tuliskan tanpa harus anda renungkan. Ini hanyalah sekedar tulisan yang terlintas begitu saja. Atau mungkin ini menandakan bahwa dari tulisan ini keyakinan sangat tipis dan insting terlalu kuat dan terlalu dikedapankan dan lebih diyakini dibandingkan dengan keyakinan kepada tuhan yang katanya lebih kita yakini dan lebih kita percaya dari pada yang lainnya.

Masih Pantaskah Mengaku Sebagai Blogger

SUCITRO HADI SANTOSOEntah sudah berapa lama keaktifan dunia online tak lagi menyertai hari-hari yang mengaku dirinya sebagai seorang blogger. Sudah cukupkah mengaku sebagai blogger karena memiliki blog? Sementara konten yang dimiliki mmerupakan hasil copy paste, atau sekedar oretan-oretan dengan kalimat-kalimat yang tidak terlalu menyenangkan untuk dibaca. Jangankan orang lain untuk menyenangi gaya tulisan yang tidak beraturan, kembali membaca tulisan-tulisan yang sudah dipublikasikan terkadang penulis merasa risih dengan kalimat-kalimat yang ada.

Tapi entahlah, paling tidak mengaku sebagai blogger pernah memiliki kesempatan menuangkan kata-kata yang mungkin saja dari sebagian kata merupakan curahan isi hati. Paling tidak pernah memiliki karya yang tidak terlalu baik dengan kata-kata indah yang puitis dan romantis. Paling tidak pernah membuat sebuah gambar yang merupakan sejarah karya terbesar yang penah dimiliki.

Pernah bercerita sekalipun hanya cerita usang yang tidak terlalu menarik perhatian untuk didengarkan apa lagi harus diperhatikan tentang pengalaman hidup yang diceritakan. Namun itulah adanya, realitas yang sesungguhnya. Tanpa harus memiliki kemampuan merangkaikan kalimat-kalimat indah nan romantis, cukup dengan bisa menyalakan komputer, memanfaatkan aplikasi sederhana dan menuangkan kata demi kata yang terlintas dalam sebuah tulisan menjadi teks yang dipublikasikan melalui internet dengan media blog sederhana. Pantas sudah untuk mendapat gelar blogger.

Lamanya menggeluti dunia blogger mungkin dapat dikatakan sebagai blogger senior, sekalipun pengetahuan yang dimiliki sangatlah terbatas. Boleh lah anda menganggap saya sebagai blogger senior. Hampir lima tahun berlalu menyandang predikat tersebut, sekalipun pengalaman dan gaya tulisan tetap tidak mengalami perbaikan. Masih tetap gaya tulisan yang tidak tentu arah dan tak dapat ditarik sebuah kesimpulan dari cerita yang dituliskan.

Sebagai cerita untuk kesempatan kali ini setelah cukup lama tak ada yang diceritakan adalah makna sebuah nama yang terkandung dalam nama yang telah diberikan kedua orang tua pada orang yang telah mengaku dirinya sebagai blogger ini. Sebuah nama yang cukup panjang terdiri dari 18 huruf/ SUCITRO HADI SANTOSO begitu nama yang diberikan tersebut.

Dulu ada yang menanyakan tentang asal usul, mas orang jawa ya?? Apakah ada perawakan jawa atau logat bicara yang kejawa-jawaan? Asli orang madura tanpa campuran, bapak dan ibu berasal dari madura sekalipun perpaduan dari dua kabupaten.

Pernah pula ada yang menanyakan makna dari nama tersebut. Menurut orang tersebut nama adalah sebuah doa dan harus memiliki makna yang baik agar menjadi doa untuk jalan kehidupan yang baik. Bingung sih menjawabnya, terus terang saya juga belum dapat memahami makna dari nama tersebut. Nah ini dia cerita sebenarnya, mencoba memaknai nama dan memahami maknanya. Oke akan dimulai pada baris kalimat yang sudah cukup panjang ini.

Sucitro --> Mungkin kata ini berasal dari bahasa jawa. SU katanya berarti baik asal tidak ditambah huruf vokal paling awal di depannya. CITRO dapat diartikan citra, atau pesona atau apa saja padanan kata yang sesuai. Jika dibuat sebuah kesimpulan SUCITRO dapat diartikan citra atau pesona yang baik. Bagaimana menurut saudara-saudara yang tersasar pada tulisan ini. Dari gambar diatas nampakkah aura pesona yang mengagumkan? He.. he.. he.. he... eeee

Hadi --> berasalah dari Asma’ul Husna Al-Haadi yang bermakna pemberi petunjuk

Santoso --> Dapat diartikan sentosa, langgeng, selamanya, awet, atau apa yang lebih pantas??

Sebagai kesimpulan sekaligus sebagai doa bagi pemilik nama dan pembaca yang sempat membaca. Makna keseluruhan dari SUCITRO HADI SANTOSO adalah Pesona yang Baik Sebagai Petunjuk Yang Abadi. Semoga saja dengan nama tersebut saya dapat memberikan petunjuk yang baik bagi orang lain terutama bagi diri sendiri dan selalu mendapatkan petunjuk yang baik dalam menjalani kehidupan ini Aamiin Ya Rabbal Alamiin....

Dari Mana Memulai SEO

Dari Mana Memulai SEOBerawal dari kesok pahaman mengenai SEO seolah sudah perfect mengenal SEO dengan berbagai pemahaman teori serta penerapan yang telah dilakukan. Padahal kenyataannya belum seberapa paham serta belum seberapa mengerti tentang Search Engine Optimization (Optimasi Mesin Pencari). Lagi pula kenapa juga harus mengoptimasi mesin pencari, sementara saya hanya pemilik blog, bukan pemilik mesin pencari. Entahlah ikut-ikutan saja dengan istilah tersebut dan sok paham saja dengan teknik SEO. Namun, sekalipun bukan seorang yang perfect dalam hal tersebut, tidak ada salahnya berbagi apa yang diketahui walaupun tidak terlalu paham, dan semoga memberikan manfaat bagi yang lain sebagai salah satu jawaban rasa penasaran terhadap apa itu SEO, bagaimana melakukannya, serta apa hasilnya?

Pertanyaan awal yang kerap ditemukan oleh blogger yang ingin belajar SEO adalah dari mana memulai SEO itu. Sama halnya dengan pengalaman pribadi waktu awal mengenal teknik optimasi mesin pencari agar tulisan itu berada pada halaman pertama hasil pencarian sebuah kata kunci. Loh kok Cuma sebuah kata kunci, sementara kata kunci yang ingin ditemukan oleh para pencari informasi itu berjibun dan beragam? Jangankan yang banyak, yang satu aja udah bikin kepala pusing untuk masuk top ranking google.

Oke kita lanjutkan pembahasannya biar tidak terlalu jauh mengelantur. Sebenarnya SEO itu simple. Dari mana memulainya? Sebagai langkah awal untuk memulai SEO, maka kita harus memulai kegiatan blogging. Membuat blog dan menulis konten. Blog dan konten merupakan modal awal untuk belajar SEO, jika tidak punya blog tentu akan lebih sulit untuk belajar.

Langkah selanjutnya adalah menjadikan blog kita dikenal mesin pencari seperti google, bing, ask, yahoo, dan lain sebagainya. Agar tidak terlalu bingung focus pada salah satu mesin pencari, dan google merupakan mesin pencari yang paling banyak dipergunakan. Setelah kita memiliki blog, menulis konten maka kita berusaha agar blog kita dikenal oleh mesin pencari. Paling tidak dengan mengetikkan url blog, ataupun url konten pada mesin telusur sudah memberikan hasil yang mengarah langsung pada blog kita.

Ada beberapa cara agar blog kita cepat dikenali mesin pencari (mendapatkan index search), antara lain dengan memanfaat fasilitas ping, google webmasters tools, dan mungkin masih banyak cara lain yang biasa dipergunakan oleh master. Percuma kita melakukan berbagai optimasi tapi pada kenyataannya blog kita tidak dikenal oleh mesin pencari. Namun pada dasarnya setting default dari sebuah blog adalah dikenal oleh mesin pencari, hanya permasalahan waktu seberapa lama blog itu untuk dapat ditemukan pada hasil penelusuran.

Tulisan ini bukanlah sebuah tutorial tentang SEO, karena memang sejatinya penulis bukanlah seorang pakar dalam SEO, hanya sekedar mengetahui bahwa SEO itu ada dan ingin menulis dengan judul yang berisikan kata SEO. Jika ada yang kurang berkenan, silahkan protes melalui kotak komentar yang ada walau mungkin saja sedang tertutup walau tidak selamanya.